Jakarta Bird Land di Ancol menawarkan pengalaman melihat burung dari jarak dekat. Kawasan ini dilengkapi area aviary yang memungkinkan burung bergerak lebih leluasa, serta sejumlah aktivitas yang memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan satwa tersebut.
Begitu memasuki kawasan, perhatian pengunjung biasanya langsung tertuju pada burung-burung yang terbang atau hinggap tak jauh dari mereka. Kakatua, macaw, rangkong, merak, hingga berbagai jenis burung lain pernah menjadi bagian dari koleksi yang diperkenalkan Ancol. Di sana juga terdapat sky bridge, jalur yang memungkinkan pengunjung mengamati burung dari posisi yang lebih dekat.
Namun ada sisi lain dari Jakarta Bird Land yang mungkin luput dari perhatian jika kunjungan hanya dipandang sebagai kegiatan melihat satwa. Kawasan ini juga terkait dengan kegiatan konservasi Ancol, termasuk program pengembangbiakan sejumlah jenis burung. Jalak Bali menjadi salah satu spesies yang masuk dalam program tersebut.
Melihat Burung dari Dekat di Jakarta Bird Land

Ancol mengembangkan Jakarta Bird Land sebagai kawasan wisata burung yang memadukan unsur rekreasi dan edukasi. Sejak memperkenalkannya pada 2022, Ancol menyebut kawasan ini memiliki luas sekitar 6.000 meter persegi dan menjadi rumah bagi ratusan burung dari berbagai jenis.
Pengunjung dapat mengamati burung melalui area aviary maupun ruang yang memungkinkan satwa bergerak lebih bebas. Pengunjung merasakan kedekatan dengan satwa berkat konsep ini, bukan sekadar melihat burung dari balik kandang kecil.
Jakarta Bird Land menghadirkan berbagai jenis burung, seperti kakatua jambul kuning, kakatua alba, kakatua raja, macaw, bebek mandarin, rangkong, dan merak biru. Ancol juga pernah menampilkan burung pemangsa dalam pertunjukan terbang bebas.
Bagi wisatawan keluarga, variasi jenis burung tersebut membuat kegiatan di dalam kawasan tidak bergantung pada satu spesies saja. Anak-anak dapat mengamati perbedaan bentuk, ukuran, warna, maupun perilaku burung setiap kali berpindah dari satu area ke area lain.
Ada Program Pengembangbiakan di Balik Pengelolaan Ancol
Di luar fungsinya sebagai tempat wisata, Ancol juga menjalankan kegiatan pengembangbiakan satwa. Dalam laporan keberlanjutan 2023, Ancol mencatat keberhasilan breeding secara ex-situ untuk sejumlah spesies, termasuk beberapa kelahiran Jalak Bali yang tercatat berlangsung di unit Jakarta Bird Land pada tahun tersebut.
Istilah ex-situ merujuk pada kegiatan konservasi yang dilakukan di luar habitat alami satwa. Dalam praktiknya, proses ini membutuhkan pengelolaan khusus agar satwa dapat berkembang biak sekaligus tetap terawat dengan baik.
Kegiatan tersebut memang tidak terlihat langsung oleh wisatawan yang berjalan mengelilingi Jakarta Bird Land, sebab yang tampak umumnya hanya burung-burung yang sudah berada di area peragaan. Meski demikian, program breeding ini memberi wisatawan konteks tambahan tentang cara lembaga konservasi mengelola sebagian satwa di kawasan tersebut.
Jalak Bali, Burung Ikonik yang Lembaga Konservasi Kembangkan
Jalak Bali atau Leucopsar rothschildi merupakan burung endemik Bali dengan status konservasi terancam punah. Kondisi populasinya yang mengkhawatirkan membuat spesies ini mendapat perhatian khusus dalam berbagai program pelestarian.
Tim Konservasi Ancol telah menjalankan program pengembangbiakan Jalak Bali sejak 2021. ANTARA pada 2022 melaporkan bahwa anakan hasil program tersebut telah menghuni Jakarta Bird Land.
Setahun berikutnya, kegiatan breeding masih terus menghasilkan anakan baru. Laporan keberlanjutan Ancol tahun 2023 mencatat lima kelahiran Jalak Bali di unit Jakarta Bird Land sepanjang tahun tersebut.
Informasi ini memberi wisatawan gambaran bahwa burung di Jakarta Bird Land tidak sekadar koleksi, tetapi bagian dari program pengembangbiakan yang lembaga konservasi jalankan.
Kondisi di Habitat Asli Masih Menjadi Perhatian
Kegiatan pengembangbiakan di Jakarta tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari kondisi Jalak Bali di habitat alaminya.
Pada April 2026, BKSDA Bali bersama sejumlah mitra melepasliarkan 12 ekor Jalak Bali ke habitat alami di Kabupaten Badung. Burung-burung tersebut sebelumnya ditangkarkan dan menjalani masa habituasi terlebih dahulu sebelum dilepasliarkan.
Kegiatan di Bali dan pengembangbiakan di Ancol berlangsung di tempat berbeda dengan fungsi yang juga berbeda. Pelepasliaran berkaitan dengan pengembalian satwa ke habitat alami, sementara breeding ex-situ dilakukan di luar habitat tersebut.
Bagi pengunjung Jakarta Bird Land, perbedaan ini dapat menjadi informasi menarik ketika melihat Jalak Bali secara langsung. Burung yang pengunjung saksikan langsung menjadi bagian dari program konservasi yang lebih luas daripada sekadar wisata.
Aktivitas Interaksi Menjadi Bagian dari Kunjungan
Melihat burung bukan satu-satunya kegiatan yang ditawarkan Jakarta Bird Land. Ancol sebelumnya juga memperkenalkan aktivitas seperti memberi makan dan berinteraksi langsung dengan sejumlah jenis burung. Area sky bridge turut menjadi salah satu bagian yang memungkinkan pengunjung mengamati burung dari jarak dekat.
Pemandu edukasi pun pernah terlibat dalam kegiatan eksplorasi burung di kawasan tersebut. Kehadiran pemandu membantu pengunjung mengenali jenis-jenis burung sekaligus memahami informasi yang sulit mereka peroleh hanya dengan mengamati satwa dari jauh.
Bagi keluarga, bagian ini cukup bermanfaat karena anak-anak dapat memperoleh bahan pengamatan langsung selama berkeliling. Sebelum memahami habitat dan konservasi, pengunjung dapat memperhatikan hal sederhana seperti bentuk paruh, warna bulu, ukuran tubuh, atau cara burung bergerak.
Aktivitas interaksi tersebut tetap mengikuti aturan yang berlaku di kawasan. Karena fasilitas, interaksi, dan jadwal pertunjukan bisa berubah sewaktu-waktu, Ancol meminta wisatawan mengecek informasi terbaru sebelum datang.
Jakarta Bird Land, Destinasi Wisata Edukasi Satwa
Daya tarik utama Jakarta Bird Land terletak pada kesempatan melihat berbagai jenis burung dalam satu kawasan dengan jarak yang relatif dekat. Informasi mengenai program pengembangbiakan Jalak Bali menambah dimensi lain dari kunjungan tersebut.
Pengunjung tidak perlu datang dengan tujuan khusus mempelajari konservasi untuk mendapatkan manfaatnya. Dengan memperhatikan jenis burung yang ditemui serta informasi yang tersedia selama berkeliling, sudah banyak hal yang dapat dipelajari tentang satwa tersebut.
Bagi wisatawan keluarga, Jakarta Bird Land juga dapat menjadi sarana mengenalkan burung kepada anak secara langsung. Wisatawan bisa menyaksikan satwa yang biasanya hanya mereka kenal lewat buku atau layar, sambil belajar bahwa setiap burung memiliki habitat dan gaya hidup unik.
